Kisah Lelaki Tua Pemulung Botol Plastik
Kisah Inspirasi 002
Kisah Lelaki Tua Pemulung Botol Plastik Bekas
Lelaki tua itupun terus berjalan menyusuri jalanan kota itu. Dengan menggendong karung besar, dia terus melangkah untuk mencari botol plastik bekas. Karungnya itu baru terisi setengahnya. Ia tak mempedulikan panas terik yang menyengat tubuhnya. Meski tubuhnya sudah tua, namun tak menyurutkan dirinya untuk mencari botol plastik bekas. Hanya itu yang dapat ia lakukan untuk sekadar menyambung hidup.
Sejenak iapun beristirahat untuk melepas lelahnya. Iapun segera meneguk air putih di dalam botolnya sebagai bekalnya. Lalu tak lama kemudian, ada sebuah sepeda motor datang mendekat. Setelah mematikan sepeda motornya, orang itu mendrkat kepada lelaki tua yang sedang beristirahat.
"Pak, ada sedikit rejeki nasi bungkus. Mohon diterima." kata orang itu.
"Ya, terima kasih nak. Semoga sehat selalu dan rejekinya lancar. Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, nak." jawab lelaki tua itu sambil menerima nasi bubgkus dan sebungkus teh dari orang itu.
Lalu, orang itupun pergi dengan sepeda motornya. Lelaki tua itu hanya bisa terharu dan bersyukur bahwa di tengah kesulitan pandemi ini, masih ada orang yang mau peduli dengan orang lain. Lelaki tua segera menyantap nasi bubgkus itu dan meminum sebungkus teh. Setelah selesai makan dan minum, lelaki tua itu merenung sejenak. Sempat terbersit dalam angannya suatu penyesalan akan masa mudanya dahulu. Tanpa sadar iapun menitikan air mata. Rasa penyesalan akan masa mudanya itu seolah menghantui pikirannya.
"Seandainya dulu aku tidak menyia-nyiakan masa mudaku, mungkin aku tidak akan begini." gumannya dalam hati.
Masa mudanya hanya ia lalui dengan melakukan hal yang sia-sia. Masa muda yang oernah menjadi kebanggaan dirinya, kebanggaan yang menjadi jerat kesombongan. Hingga suatu saat, iapun terjatuh dan terpuruk karena kesombongan masa mudanya itu. Kini hanya penyesalan yang ada pada dirinya. Sebagai konsekuensi akibat kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.
Dahulu saat dia mengalami keemasan, banyak orang yang mendekat kepadanya bahkan menyanjung-nyanjung sehingga mengakibatkan muncul rasa sombong dalam hatinya. Pada saat itu, ia memiliki apapun yang menjadi keinginannya. Seakan dia menikmati indahnya surga dunia. Lalu suatu ketika, keadaanya berbalik 180`. Ia yang dulunya kaya raya, kini menjadi miskin bahkan melarat. Dulu banyak orang yang menyanjung dia, kini sekarang menjauh bahkan memandang hina kepadanya. Saat itu ia kehilangan harta benda dan kekayaan yang ia miliki. Rasa frustasi dan stres mulai menghantui dirinya. Dulu ia tinggal di rumah mewah sekarang ia tinggal di gubug tua. Ya setidaknya sekadar untuk beristirahat. Dulu ia bisa makan apa yang mau, sekarang ia harus berjuang untuk sekadar mengganjal perutnya yang lapar. Ditambah ia mendapat penilaian yang buruk dari orang-orang disekitarnya. Stigma yang negatif melekat pada dirinya.
Namun, ditengah keterpurukan yang ia alami, ia berikhtiar untuk bertobat dari kesombongan masa mudanya. Ia pikir, belum terlambat selama jiwa belum terpisah dari raga, selama jantung ini berdetak, selama masih ada nafas. Selagi Allah SWT memberi kesempatan untuk taubat, ia ingin memperbaiki kesalahannya. Meski bekas paku yang sudah dicabut masih ada, namun ia menjadikannya suatu pelajaran yang berharga dalam hidupnya.
Dalam perenungannya, lelaki tua itu berusaha menghibur dirinya. Ia hanya sebatang kara di dunia ini. Namun ia masih memiliki Sang Pencipta Penguasa Jagad Raya yang menginginkan unatNya bisa kembali ke jalan yang benar agar terhindar dari hukuman api neraka yang kekal.
"Ah, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu, yang baru sudah datang. Aku membuka lembaran yang baru dalam hidupku. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Jatuh ke dalam lubang yang sama. Kini, aku harus bangkit dan melangkah dari masa laluku. Aku melupakan apa yang dibelakangku dan berlari fokus ke depan sambil memperbaiki kesalahan masa lalu. Ah, mungkin dari kisah hidupku menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi orang lain, mereka yang masih muda dan menikmati kenikmatam dunia. Semoga mereka tidak muncul rasa sombong, sebab apa yang kita miliki adalah milik Allah SWT, Sang Pemilik alam semesta ini. Harusnya mereka bersyukur bisa menikmati itu semua. Cobaan yang berat bukan hanya disaat kita mengalami masa sulit, namun juga disaat kita berkelimoahan. Dengan harta benda itu kita juga dicoba. Apakah kita terpikat dengan harta benda dan kekayaan yang menyebabkan timbulnya kesombongan atau justru mempergunakan harta benda untuk beramal kebaikan atau berbagi berkat dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan? Ya sudahlah, aku jalani saja dan menerima keadaanku saat ini dengan rasa syukur. Tak ada gunanya bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan. Setidaknya ini kesempatan kedua yang Allah SWT berikan untuk bertaubat dan memperbaiki masa lalu. Bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan justru malah memparah keadaan, salah-salah bisa kena azab kalau tidak mau bertaubat dengan tulus ikhlas. Ya wes nek iki kudu dadi lelakonku, ya dak lakoni tulus lan ikhlas. Aku harus semangat dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Tak peduli orang memandang akubseperti apa namun Allah SWT memandang aku sangat berharga di hadapanNya dan berbuat baik bagi orang lain sehingga ibadah shalatku menjadi lengkap karena amalan perbuatan baik dengan orang lain." katanya dalam hati sambil merenung.
Tak lama kenudian, terdengarlah suara adzan dzuhur. Lelaki tua itu bergegas menuju masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban shalatnya. Setelah selesai melaksanakan kewajibannya itu, sembari bersujud iapun berdoa kepada Sang Pencipta. Doanya hanyalah sederhana, mengucap syukur dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang dilakukannya. Lalu setelah berdoa, iapun segera bergegas pergi dari masjid itu, namun ia menyempatkan diri menyisihkan rejekinya untuk mengisi kotak amal, nilainya tak seberapa namun ia dengan tulus ikhlas memberikan rejekinya itu. Ia sendiri tak tahu apakah ia bisa makan nanti malam atau tidak, yang penting ia sudah menyisihkan rejekinya untuk bersodaqoh dengan mengisi kotak amal. Iapun pergi dan mengambil karung yang ia gunakan untuk mengumpulkan botol plastik bekas.
Iapun tak merasa malu dengan pekerjaannya itu. Justru ia merasa bangga karena dengan pekerjaannya itu, lingkungan akan menjadi bersih dari pencemaran limbah botol plastik bekas. Botol plastik bekas yang ia kumpulkan, lalu didaur ulang menjadi barang-barang yang bisa mendatangkan manfaat. Hal itupun ia anggap sebagai tindakan yang menghargai ciptaan Tuhan dengan menjaga kebersihan dan keleatarian lingkungan, terutama di kota dimana ia tinggal saat ini
Pikirnya, ya anggap aja ini adalah amalan perbuatan baik, disamping juga untuk menebus kesalahan masa mudanya yang dulu. Lalu dengan penuh semangat, iapun terus mencari dan mengumpulkan botol plastik bekas.
"Semoga bisa mendatangkan rejeki dan berkah yang barokah. Amin ya rabal al amin." katanya dalam hati.
Comments
Post a Comment