Aku Ingin Bangkit

  Pemuda itu hanya bisa terdiam dan merenung di kamarnya. Ia sadar bahwa dia tak mampu berbuat banyak denga keadaannya saat ini. Penyakit yang dideritanya saat ini mulai menggerogoti dari dalam tubuhnya, belum lagi musibah kecelakaan yang dialami beberapa bulan silam yang menyebabkan dia beristirahat untuk sementara. Pemulihannya memakan waktu yang akan lebih lama dari yang semestinya karena penyakitnya itu.

Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat dan menyerah begitu saja. Ia berusaha keras dengan keadaan yang terbatas itu hanya untuk bertahan hidup dan berusaha berkarya semampu dia. Meski diapun mendapat stigma yang negatif karena keadaan penyakitnya itu dan bahkan beberapa orang menilai buruk dia hingga kehilangan empati, namun dia terpaksa lakukan karena keadaan. Dalam hatinya, sebenarnya dia tak mau melakukan hal itu. Dia berpikir, kalau saja dia sehat sama seperti kebanyakan orang lain maka dia tak akan melakukan hal semacam itu.

Terkadang, dia ingin berontak dan tak mau menerima keadaan yang demikian namun dia tak mampu. Penyesalan demi penyesalan terus menerus menghantui dirinya. Ia merasa tak berguna malah keberadaanya hanya menjadi beban orang lain saja. Hatinya terus bergumul, ia merasa ingin lari dari kenyataan yang dihadapi namun ia tak mampu. Dia diperhadapkan dengan pilihan, aoakah ia terus berkubang dalam keterpurukan itu? Atau berusaha berjuang keluar dari keterpurukan itu?

Di sisi lain, rasa pesimis mengintimidasi pikirannya, yang membuat dia seakan tak mampu keluar dari lubang keterpurukan itu. Sedangkan di sisi lain, ia ingin keluar dari lubang itu dan mengubah keadaan untuk menjadi lebih baik dan berusaha memetahakan anggapan orang yang salah tentang dirinya itu.

Dalam angan, dia hanya berharap adanya perubahan yang lebih baik. Dia sedang bergumul untuk melawan pikiran yang berusaha mengintimidasi dia, yang membuat dia tak bisa berkembang dan maju. Yang membuat dirinya akan tetap terus berada dalam kubangan keterpurukan lalu perlahan mati membusuk tak berguna. Iapun perus berusaha melawan dan menaklukan itu semua dan terus berjuang dan berjuan. Ini adalah pertarungan yang sangant berat, bahkan lebih hebat dari perang Baratayudha. Namun, mau tak mau dua harus memenangkan pertarungan ini. Kini dia sedang bertarung, baik melawan penyakitnya, keadaannya dan dengan pikirannya yang membuat dia terus terintimidasi sehingga sulit untuk berkemabng dan maju bahkan sangat sulit untuk berubah jadi lebih baik.

Tantangan yang ia hadapi bukan saja dari pergumulan dengan dirinya sendiri namun juga dari orang-orang sekitar yang sudah mulai kehilangan empati terhadap dirinya. Orang-orang cenderung menilai negatif pada setuap usaha yang dia lakukan untuk berubah menjadi lebih baik. Rasanya sangat sulit bahkan tak mungkin. Karena menurut penilaian mereka, sekali buruk tetaplah buruk dan bahkan tak mungkin bisa menjadi baik. Ibarat nasi sudah menjadi bubur menurut mereka. Meraka hanya menanggap dia sebagai aib yang menjijikan, sampah yang tak berguna yang harus dibuang. Bahkan mereka memalingkan muka mereka karena dia sudah dianggap terlalu buruk dan hina serta tak pantas dan layak.

Menghadapi hal yang demikian, pemuda itu hanya merenung. Sempat terpikir dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya daripada menjadi beban dan aib bagi orang lain. Ia merasa sudah tak ada rasa peduli dan bahkan empati terhadap dirinya. Rasa frustasi begitu luar biasa menekan dirinya. Seakan tak seorangpun mau mengulurkan tangan kepada dirinya. Ia dipandang rendah dan hina  bahkan menjadi aib yang memalukan. Ia merasa bukan manusia lagi. Ia betusaha menyalahkan keadaan tapi apa daya ia tak mampu. Percuma menyalahkan keadaan.

Dalam perenungan itu, ia berusaha menyikapi dengan positif. Ia berusaha berjuang untuk bangkit meski keadaan sulit yang menghimpit. Ia tak oeduli seberapa sakit yang harus dialami ketika dia sedang berjuang untuk bangkit. Ia menutup telinga terhadap suara-suara yang sumbang yang berusaha menghambat dan bahkan ingn menjatuhkan, ingin tetap selalu berada keterpurukan bahkan hancur sehancurnya hingga tiada yang terisia lagi pada dirinya.

"Ah, aku harus bisa menaklukan keadaan dan merubahnya untuk menjadi lebih baik. Akan kupatahkan anggapan orang selama ini. Walau raga ini sudah rusak seperti ini, namun aku masih  punya tekaf dan semangat." guman pemuda itu dalam lubuk hatinya yang paling dalan. Perjuangan pemuda itu melawan keadaan dirinya yang secara fisik terbatas dan juga melaean anggapan orang-orang yang sudah menilai dia buruk, juga kepada mereka yang ingin selalu menjatuhkan.

Pemuda itu tak berharap banyak akan ada segelintir orang yang memberi dia semangat dan motivasi agar dia bangkit dan merubah keadaan untuk menjadi lebih baik. Ia berusaha berjuang sendirian meski keadaan seakan tak memungkinkan. Dan perjuamgannya terus hingga jiwanya rerpisah dari raganya dan terkubur di dalam tanah dan jiwanya pergi menuju ke alam keabadian.

Comments

Popular posts from this blog

Kajian Komparatif Kejadian 1:1 dan Yohanes 1:1: Analisis Teks Asli dan Tinjauan Teologi Biblikal Injili

DRAF: Kerangka Aturan Sistem Kecerdasan (ARIS) dalam Kepatuhan UU ITE

Tentang Blog Ini